Rabu, 14 Maret 2012
keajaiban-keajaban perang di gaza
/xv4LwQ
=][ Keajaiban-Keajaiban Perang di Gaza (Palestina Melawan
Israel) ][=
Kisah tentang munculnya “pasukan lain” yang ikut bertempur
bersama para mujahidin, semerbak harum jasad para
syuhada, serta beberapa peristiwa “aneh” lainnya selama
pertempuran, telah beredar di kalangan masyarakat Gaza,
ditulis para jurnahs, bahkan disiarkan para khatib Palestina di
khutbah-khutbah Jumat mereka.
Berikut ini adalah rangkuman kisah-kisah “ajaib” tersebut dari
berbagai sumber untuk kita ingat dan renungkan.
Pasukan "Berseragam Putih" di Gaza Ada “pasukan lain”
membantu para mujahidin Palestina. Pasukan Israel sendiri
mengakui adanya pasukan berseragam putih itu.
Suatu hari di penghujung Januari 2009, sebuah rumah milik
keluarga Dardunah yang berada di antara Jabal Al Kasyif dan
Jabal Ar Rais, tepatnya di jalan Al Qaram, didatangi oleh
sekelompok pasukan Israel.
Seluruh anggota keluarga diperintahkan duduk di sebuah
ruangan. Salah satu anak laki-laki diinterogasi mengenai ciri-ciri
para pejuang al-Qassam.
Saat diinterogasi, sebagaimana ditulis situs Filisthin Al Aan
(25/1/2009), mengutip cerita seorang mujahidin al-Qassam,
laki-laki itu menjawab dengan jujur bahwa para pejuang al-
Qassam mengenakan baju hitam-hitam. Akan tetapi tentara itu
malah marah dan memukulnya hingga laki-laki malang itu
pingsan.
Selama tiga hari berturut-turut, setiap ditanya, laki-laki itu
menjawab bahwa para pejuang al-Qassam memakai seragam
hitam. Akhirnya, tentara itu naik pitam dan mengatakan dengan
keras, “Wahai pembohong! Mereka itu berseragam putih!”
Cerita lain yang disampaikan penduduk Palestina di situs milik
Brigade Izzuddin al-Qassam, Multaqa al-Qasami, juga
menyebutkan adanya “pasukan lain” yang tidak dikenal.
Awalnya, sebuah ambulan dihentikan oleh sekelompok
pasukan Israel. Sopirnya ditanya apakah dia berasal dari
kelompok Hamas atau Fatah? Sopir malang itu menjawab,
“Saya bukan kelompok mana-mana. Saya cuma sopir
ambulan.”
Akan tetapi tentara Israel itu masih bertanya, “Pasukan yang
berpakaian putih-putih dibelakangmu tadi, masuk kelompok
mana?” Si sopir pun kebingungan, karena ia tidak melihat
seorangpun yang berada di belakangnya. “Saya tidak tahu,”
jawaban satu-satunya yang ia miliki.
Saksi Serdadu Israel Cerita tentang “serdadu berseragam
putih” tak hanya diungkap oleh mujahidin Palestina atau warga
Gaza. Beberapa personel pasukan Israel sendiri menyatakan
hal serupa.
Situs al-Qassam memberitakan bahwa TV Channel 10 milik
Israel telah menyiarkan seorang anggota pasukan yang ikut
serta dalam pertempuran Gaza dan kembali dalam keadaan
buta.
“Ketika saya berada di Gaza, seorang tentara berpakaian putih
mendatangi saya dan menaburkan pasir di mata saya, hingga
saat itu juga saya buta,” kata anggota pasukan ini.
Di tempat lain ada serdadu Israel yang mengatakan mereka
pernah berhadapan dengan “hantu”. Mereka tidak diketahui
dari mana asalnya, kapan munculnya, dan ke mana
menghilangnya.
Masih dari Channel 10, seorang Lentara Israel lainnya
mengatakan, “Kami berhadapan dengan pasukan berbaju
putih-putih dengan jenggot panjang. Kami tembak dengan
senjata, akan tetapi mereka tidak mati.”
Selamat Dengan al-Qur’an Cerita ini bermula ketika salah
seorang pejuang yang menderita luka memasuki rumah sakit
As Syifa’. Seorang dokter yang memeriksanya kaget ketika
mengelahui ada sepotong proyektil peluru bersarang di saku
pejuang tersebut.
Yang membuat ia sangat kaget adalah timah panas itu gagal
menembus jantung sang pejuang karena terhalang oleh sebuah
buku doa dan mushaf al-Qur’an yang selalu berada di saku
sang pejuang.
Buku kumpulun doa itu berlobang, namun hanya sampul muka
mushaf itu saja yang rusak, sedangkan proyektil sendiri
bentuknya sudah “berantakan”.
Kisah ini disaksikan sendiri oleh Dr Hisam Az Zaghah, dan
diceritakannya saat Festival Ikatan Dokter Yordan
sebagaimana ditulis situs partai Al Ikhwan Al Muslimun
(23/1/2009).
Dr. Hisam juga memperlihatkan bukti berupa sebuah proyektil
peluru, mushaf Al Qur’an, serta buku kumpulan doa-doa
berjudul Hishnul Muslim yang menahan peluru tersebut.
Abu Ahid, imam Masjid AnNur di Hay As Syeikh Ridzwan, juga
punya kisah menarik. Sebelumnya, Israel telah menembakkan
3 rudalnya ke masjid itu hingga tidak tersisa kecuali hanya
puing-puing bangunan. “Akan tetapi mushaf-mushaf Al Quran
tetap berada di tampatnya dan tidak tersentuh apa-apa,”
ucapnya seraya tak henti bertasbih.
“Kami temui beberapa mushaf yang terbuka tepat di ayat-ayat
yang mengabarkan tentang kemenangan dan kesabaran,
seperti firman Allah, ‘Dan Kami pasti akan menguji kamu
dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa,
dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada
orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila
ditimpa musibah mereka berkata, sesungguhnya kami milik
Allah dan kepada-Nyalah kami kembali,”(Al-Baqarah [2]:
155-156),” jelas Abu Ahid sebagaimana dikutip Islam Online
(15/1/2009).
Harum Jasad Para Syuhada Abdullah As Shani adalah anggota
kesatuan sniper (penembak jitu) al-Qassam yang menjadi
sasaran rudal pesawat F-16 Israel ketika sedang berada di pos
keamanan di Nashirat, Gaza.
Jasad komandan lapangan al-Qassam dan pengawal khusus
para tokoh Hamas ini “hilang” setelah terkena rudal. Selama
dua hari jasad tersebut dicari, ternyata sudah hancur tak
tersisa kecuali serpihan kepala dan dagunya. Serpihan-serpihan
tubuh itu kemudian dikumpulkan dan dibawa pulang ke rumah
oleh keluarganya untuk dimakamkan.
Sebelum dikebumikan, sebagaimana dirilis situs syiria-aleppo.
com (24/1/2009), serpihan jasad tersebut sempat
disemayamkan di sebuah ruangan di rumah keluarganya.
Beberapa lama kemudian, mendadak muncul bau harum misk
dari ruangan penyimpanan serpihan tubuh tadi.
Keluarga Abdullah As Shani’ terkejut lalu memberitahukan
kepada orang-orang yang mengenal sang pejuang yang
memiliki kuniyah (julukan) Abu Hamzah ini.
Lalu, puluhan orang ramai-ramai mendatangi rumah tersebut
untuk mencium bau harum yang berasal dari serpihan-
serpihan tubuh yang diletakkan dalam sebuah kantong plastik.
Bahkan, menurut pihak keluarga, 20 hari setelah wafatnya pria
yang tak suka menampakkan amalan-amalannya ini, bau
harum itu kembali semerbak memenuhi rungan yang sama.
Cerita yang sama terjadi juga pada jenazah Musa Hasan Abu
Nar, mujahid Al Qassam yang juga syahid karena serangan
udara Israel di Nashiriyah. Dr Abdurrahman Al Jamal, penulis
yang bermukim di Gaza, ikut mencium bau harum dari
sepotong kain yang terkena darah Musa Hasan Abu Nar. Walau
kain itu telah dicuci berkali-kali, bau itu tetap semerbak.
Dua Pekan Wafat, Darah Tetap Mengalir Yasir Ali Ukasyah
sengaja pergi ke Gaza dalam rangka bergabung dengan sayap
milisi pejuang Hamas, Brigade Izzuddin al-Qassam. Ia
meninggalkan Mesir setelah gerbang Rafah, yang
menghubungkan Mesir-Gaza, terbuka beberapa bulan lalu.
Sebelumnya, pemuda yang gemar menghafal al-Qur’an ini
sempat mengikuti wisuda huffadz (para penghafal) al-Qur’an
di Gaza dan bergabung dengan para mujahidin untuk
memperoleh pelatihan militer. Sebelum masuk Gaza, di
pertemuan akhir dengan salah satu sahabatnya di Rafah, ia
meminta didoakan agar memperoleh kesyahidan.
Untung tak dapat ditolak, malang tak dapat diraih, di bumi
jihad Gaza, ia telah memperoleh apa yang ia cita-citakan. Yasir
syahid dalam sebuah pertempuran dengan pasukan Israel di
kamp pengungsian Jabaliya.
Karena kondisi medan, jasadnya baru bisa dievakuasi setelah
dua pekan wafatnya di medan pertempuran tersebut.
Walau sudah dua pekan meninggal, para pejuang yang ikut
serta melakukan evakuasi menyaksikan bahwa darah segar
pemuda berumur 21 tahun itu masih mengalir dan fisiknya
tidak rusak. Kondisinya mirip seperti orang yang sedang
tertidur.
Sebelum syahid, para pejuang pernah menawarkan kepadanya
untuk menikah dengan salah satu gadis Palestina, namun ia
menolak. “Saya meninggalkan keluarga dan tanah air
dikarenakan hal yang lebih besar dari itu,” jawabnya.
Terbunuh 1.000, Lahir 3.000 Hilang seribu, tumbuh tiga ribu.
Sepertinya, ungkapan ini cocok disematkan kepada penduduk
Gaza. Kesedihan rakyat Gaza atas hilangnya nyawa 1.412
putra putrinya, terobati dengan lahirnya 3.700 bayi selama 22
hari gempuran Israel terhadap kota kecil ini.
Hamam Nisman, Direktur Dinas Hubungan Sosial dalam
Kementerian Kesehatan pemerintahan Gaza menyatakan
bahwa dalam 22 hari 3.700 bayi lahir di Gaza. “Mereka lahir
antara tanggal 27 Desember 2008 hingga 17 Januari 2009,
ketika Israel melakukan serangan yang menyebabkan
meninggalnya 1.412 rakyat Gaza, yang mayoritas wanita dan
anak-anak,” katanya.
Bulan Januari tercatat sebagai angka kelahiran tertinggi
dibanding bulan-bulan sebelumnya. “Setiap tahun 50 ribu
kasus kelahiran tercatat di Gaza. Dan, dalam satu bulan
tercatat 3.000 hingga 4.000 kelahiran. Akan tetapi di masa
serangan Israel 22 hari, kami mencatat 3.700 kelahiran dan
pada sisa bulan Januari tercatat 1.300 kelahiran. Berarti dalam
bulan Januari terjadi peningkatan kelahiran hingga 1.000 kasus.
Rasio antara kematian dan kelahiran di Gaza memang tidak
sama. Angka kelahiran, jelasnya lagi, mencapai 50 ribu tiap
tahun, sedang kematian mencapai 5 ribu.
“Israel sengaja membunuh para wanita dan anak-anak untuk
menghapus masa depan Gaza. Sebanyak 440 anak-anak dan
110 wanita telah dibunuh dan 2.000 anak serta 1.000 wanita
mengalami luka-luka.
Share @ http://on.fb.me/xv4LwQ
9 Maret pukul 23:36
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar