Rabu, 14 Maret 2012
kiaah sedih dari jabaliyah
Postingan dari : http://lets-learn-about-
islam.blogspot.com/2012/03/kisah-sedih-dari-jabaliyah-
mengenang.html
~Kisah Sedih dari Jabaliyah (mengenang potongan tragedi
kemanusiaan di bumi Palestina)
“Oh, Rabb! Saya tidak pernah melihat pemandangan
mengerikan seperti ini.” Kata Abu Aukal, sambil menangis
tersedu-sedu.
Abu Aukal adalah seorang dokter. Bertugas di bagian gawat
darurat, dia telah terbiasa menangani korban terluka maupun
tewas akibat agresi Israel di jalur Gaza, dalam berbagai
kondisi. Tapi, tidak untuk yang satu ini. Dia hampir tak
mempercayai apa yang dilihatnya.
Beberapa hari lalu, di kamp pengungsian Jabaliyah, yang
terletak di bagian utara Gaza City, tak jauh dari pintu
perbatasan Erez, seorang bocah perempuan, Shahd (4 tahun),
sedang bermain di halaman belakang rumahnya. Tiba-tiba,
tentara Zionis Israel menyerang dan menembak membabi-
buta. Bocah gemuk yang lucu itu bersimbah darah.
Melihat anaknya tergeletak di lantai dengan kondisi
mengenaskan, kedua orang tuanya buru-buru mengulurkan
tangan hendak meraihnya. Tapi, serdadu Israel mengusirnya
dengan hujan peluru. Kedua orang tua itu pun meninggalkan
tempat itu, sementara anaknya masih tertidur di sana: entah
sedang sekarat, entah sudah tewas.
Rupanya tentara Israel yang selalu membawa anjing pelacak
saat melakukan serangan darat ke Jalur Gaza, memang punya
maksud tertentu dengan tindakannya itu. Jenazah Shahd
sengaja dibiarkan tergeletak di halaman terbuka itu untuk
(maaf) dijadikan santapan anjing.
“Anjing-anjing itu meninggalkan satu bagian utuh tubuh bayi
malang itu,” kata Abu Aukal, dengan air mata berderai, saat
menuturkan cerita tragis itu, seperti dikutip islamonline,
kemarin.
“Kami melihat pemandangan memilukan selama 18 hari
terakhir (agresi Israel). Kami mengangkat mayat anak-anak
yang tercabik atau terbakar. Tapi, tak ada yang seperti ini,”
kata Abu Aukal.
Berhari-hari saudara Shahd, Matar, dan sepupunya,
Muhammad, mencoba meraih tubuh gadis itu, tapi sia-sia.
Lagi-lagi, tentara pendudukan Israel menggunakan bahasa
tembakan untuk mengusir kedua bocah itu.
Tapi, melihat tubuh Shahd yang terus dicabik anjing dari hari ke
hari, Matar dan Muhammad tak tahan. Pada hari kelima,
keduanya nekat mendekati tubuh Shahd yang masih tersisa
untuk dibawa pulang. Belum lagi keduanya meraih tubuh
Shahd, tentara Israel menghujani dengan tembakan. Keduanya
tewas.
Omran Zayda, tetangga Shahd, menilai tentara Israel sangat
mengetahui apa yang mereka lakukan. “Mereka (tentara Israel-
Red) menghalau dan mencegah keluarga yang ingin mengambil
mayat (Shahd), karena mengetahui anjing-anjing mereka akan
memakannya,” katanya.
Apa yang terjadi pada Shahd, kata Zayda, tak bisa
digambarkan dengan kata-kata, tidak pula rekayasa kamera.
“Anda tidak akan pernah membayangkan apa yang telah
dilakukan anjing-anjing itu kepada tubuh anak tak berdosa itu,”
kata pria itu sambil menahan air matanya.
Zaydan menambahkan, “Mereka bukan hanya membunuh
anak-anak kami. Mereka juga melakukan tindakan yang sangat
keji dan tak berperikemanusiaan,”
Sejumlah orang Palestina meyakini apa yang terjadi pada
Shahd bukanlah satu-satunya kasus mengerikan yang dilakukan
tentara Israel kepada warga Palestina di Gaza.
Sebelumnya, menimpa keluarga Abu Rabu yang sedang
mencoba menguburkan tiga anggota keluarganya yang tewas,
ketika tentara Israel secara tiba-tiba mencegah acara
penguburan itu dengan berondongan peluru. Saat keluarga
yang sedang berduka itu menjauh, tentara Israel melepaskan
anjing-anjing pelacaknya ke arah tubuh-tubuh itu. Peristiwa ini
juga terjadi di Jabaliyah.
“Apa yang terjadi ini sangat mengerikan dan tak terbayangkan,”
kata Saad Abu Rabu, salah satu anggota keluarga itu. “Anak-
anak kami tewas di depan mata kami, tapi kami bahkan
dicegah untuk menguburkan mereka. Orang-orang Israel
melepaskan anjing-anjing ke arah tubuh-tubuh mereka, seakan
apa yang mereka lakukan belum cukup,” katanya sambil
menangis.
Masih di Jabaliyah, harian terkemuka Israel, Haaretz,
melaporkan seorang dokter Palestina, dr. Issa Salah (28),
dibunuh tentara Israel, Senin (12/1), ketika sedang menolong
korban serangan Israel. Menurut Mizan—sebuah organisasi
kemanusiaan di Gaza—saat itu Issa dan timnya memasuki
gedung yang diserang misil Israel.
Issa dan timnya masuk ke gedung itu sambil meminta yang
selamat untuk meninggalkan gedung, sementara tim medis itu
mencari mereka yang jadi korban. Tapi, beberapa menit
kemudian, sebuah helikopter kembali menembaki misilnya ke
gedung itu. Issa pun tewas. Serangan itu juga menewaskan
sejumlah wanita dan anak-anak.
Tewasnya dr. Issa membuat sejumlah petugas medis yang
dibunuh selama agresi Israel di Jalur Gaza menjadi tujuh orang.
Selain itu, tiga rumah sakit dan empat klinik kesehatan juga
dihancurkan oleh mesin-mesin perang Zionis.
Peristiwa kelam yang terjadi di Gaza memang memilukan. Tak
ada lagi sejengkal pun tempat yang aman untuk berlindung dari
kebuasan mesin-mesin perang Israel. Bahkan, Israel pun
seolah tak lagi mempunyai hati untuk sekedar memberi
perlakuan yang baik kepada orang-orang yang telah
dibunuhnya.
Apa yang terjadi di Gaza menurut pejabat senior United
Nation Relief and Work Agency Jhon Ging, merupakan “tes bagi
kemanusiaan kita.”
"Inikah yang dinamakan dengan perang? atau pembantaian?"
Silahkan Share dengan mengklik : http://on.fb.me/zkZvDI
10 Maret pukul 23:28
Kaze Kate
http://lets-learn-about-
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar