Rabu, 14 Maret 2012
aku ingin mencintai mu dengan sederhana
ku Ingin Mencintaimu Denga Sederhana ][=
http://lets-learn-about-islam.blogspot.com/2012/03/aku-
ingin-mencintaimu-denga-sederhana.html
mari bergabung di situs kami :)
Aku memandang kalender yang terletak di meja dengan kesal.
Sabtu, 30 Maret 2002, hari ulang tahun perkawinan kami yang
ketiga. Dan untuk ketiga kalinya pula Aa’ lupa. Ulang tahun
pertama, Aa’ lupa karena harus rapat dengan direksi untuk
menyelesaikan beberapa masalah keuangan perusahaan.
Sebagai Direktur keuangan, Aa’ memang berkewajiban
menyelesaikan masalah tersebut. Baiklah, aku maklum.
Persoalan saat itu memang lumayan pelik.
Ulang tahun kedua, Aa’ harus keluar kota untuk melakukan
presentasi. Kesibukannya membuatnya lupa. Dan setelah
minta maaf, waktu aku menyatakan kekesalanku, dengan
kalem ia menyahut,” Dik, toh aku sudah membuktikan cintaku
sepanjang tahun. Hari itu tidak dirayakan kan tidak apa-apa.
Cinta kan tidak butuh upacara…”
Sekarang, pagi-pagi ia sudah pamit ke kantor karena harus
menyiapkan beberapa dokumen rapat. Ia pamit saat aku
berada di kamar mandi. Aku memang sengaja tidak
mengingatkannya tentang ulang tahun perkawinan kami. Aku
ingin mengujinya, apakah ia ingat atau tidak kali ini. Nyatanya?
Aku menarik napas panjang.
Heran, apa sih susahnya mengingat hari ulang tahun
perkawinan sendiri? Aku mendengus kesal. Aa’ memang
berbeda dengan aku. Ia kalem dan tidak ekspresif, apalagi
romantis. Maka, tidak pernah ada bunga pada momen-
momen istimewa atau puisi yang dituliskan di selembar kertas
merah muda seperti yang sering kubayangkan saat sebelum
aku menikah.
Sedangkan aku, ekspresif dan romantis. Aku selalu
memberinya hadiah dengan kata-kata manis setiap hari ulang
tahunnya. Aku juga tidak lupa mengucapkan berpuluh kali kata
I love you setiap minggu. Mengirim pesan, bahkan puisi lewat
sms saat ia keluar kota. Pokoknya, bagiku cinta harus
diekspresikan dengan jelas. Karena kejelasan juga bagian dari
cinta.
Aku tahu, kalau aku mencintai Aa’, aku harus menerimanya apa
adanya. Tetapi, masak sih orang tidak mau berubah dan
belajar? Bukankah aku sudah mengajarinya untuk bersikap
lebih romantis? Ah, pokoknya aku kesal titik. Dan semua
menjadi tidak menyenangkan bagiku. Aku uring-uringan. Aa’
jadi benar-benar menyebalkan di mataku. Aku mulai
menghitung-hitung waktu dan perhatian yang diberikannya
kepadaku dalam tiga tahun perkawinan kami. Tidak ada akhir
minggu yang santai. Jarang sekali kami sempat pergi berdua
untuk makan malam di luar. Waktu luang biasanya
dihabiskannya untuk tidur sepanjang hari. Jadilah aku manyun
sendiri hampir setiap hari minggu dan cuma bisa
memandangnya mendengkur dengan manis di tempat tidur.
Rasa kesalku semakin menjadi. Apalagi, hubungan kami
seminggu ini memang sedang tidak baik. Kami berdua sama-
sama letih. Pekerjaan yang bertumpuk di tempat tugas kami
masing-masing membuat kami bertemu di rumah dalam
keadaan sama-sama letih dan mudah tersinggung satu sama
lain. Jadilah, beberapa kali kami bertengkar minggu ini.
Sebenarnya, hari ini aku sudah mengosongkan semua jadual
kegiatanku. Aku ingin berdua saja dengannya hari ini dan
melakukan berbagai hal menyenangkan. Mestinya, Sabtu ini ia
libur. Tetapi, begitulah Aa’. Sulit sekali baginya meninggalkan
pekerjaannya, bahkan pada akhir pekan seperti ini. Mungkin,
karena kami belum mempunyai anak. Sehingga ia tidak merasa
perlu untuk meluangkan waktu pada akhir pekan seperti ini.
”Hen, kamu yakin mau menerima lamaran A’ Ridwan?” Diah
sahabatku menatapku heran. ”Kakakku itu enggak romantis,
lho. Tidak seperti suami romantis yang sering kau bayangkan.
Dia itu tipe laki-laki serius yang hobinya bekerja keras. Baik sih,
soleh, setia… Tapi enggak humoris. Pokoknya, hidup sama dia
itu datar. Rutin dan membosankan. Isinya cuma kerja, kerja
dan kerja…” Diah menyambung panjang lebar. Aku cuma
senyum-senyum saja saat itu. Aa’ memang menanyakan
kesediaanku untuk menerima lamaranku lewat Diah.
”Kamu kok gitu, sih? Enggak senang ya kalau aku jadi kakak
iparmu?” tanyaku sambil cemberut. Diah tertawa melihatku.
”Yah, yang seperti ini mah tidak akan dilayani. Paling ditinggal
pergi sama A’ Ridwan.” Diah tertawa geli. ”Kamu belum tahu
kakakku, sih!” Tetapi, apapun kata Diah, aku telah bertekad
untuk menerima lamaran Aa’. Aku yakin kami bisa saling
menyesuaikan diri. Toh ia laki-laki yang baik. Itu sudah lebih
dari cukup buatku.
Minggu-minggu pertama setelah perkawinan kami tidak banyak
masalah berarti. Seperti layaknya pengantin baru, Aa’ berusaha
romantis. Dan aku senang. Tetapi, semua berakhir saat masa
cutinya berakhir. Ia segera berkutat dengan segala
kesibukannya, tujuh hari dalam seminggu. Hampir tidak ada
waktu yang tersisa untukku. Ceritaku yang antusias sering
hanya ditanggapinya dengan ehm, oh, begitu ya… Itupun
sambil terkantuk-kantuk memeluk guling. Dan, aku yang telah
berjam-jam menunggunya untuk bercerita lantas kehilangan
selera untuk melanjutkan cerita.
Begitulah… aku berusaha mengerti dan menerimanya. Tetapi
pagi ini, kekesalanku kepadanya benar-benar mencapai
puncaknya. Aku izin ke rumah ibu. Kukirim sms singkat
kepadanya. Kutunggu. Satu jam kemudian baru kuterima
jawabannya. Maaf, aku sedang rapat. Hati-hati. Salam untuk
Ibu. Tuh, kan. Lihat. Bahkan ia membutuhkan waktu satu jam
untuk membalas smsku. Rapat, presentasi, laporan keuangan,
itulah saingan yang merebut perhatian suamiku.
Aku langsung masuk ke bekas kamarku yang sekarang
ditempati Riri adikku. Kuhempaskan tubuhku dengan kesal.
Aku baru saja akan memejamkan mataku saat samar-samar
kudengar Ibu mengetuk pintu. Aku bangkit dengan malas.
”Kenapa Hen? Ada masalah dengan Ridwan?” Ibu membuka
percakapan tanpa basa-basi. Aku mengangguk. Ibu memang
tidak pernah bisa dibohongi. Ia selalu berhasil menebak
dengan jitu.
Walau awalnya tersendat, akhirnya aku bercerita juga kepada
Ibu. Mataku berkaca-kaca. Aku menumpahkan kekesalanku
kepada Ibu. Ibu tersenyum mendengar ceritaku. Ia mengusap
rambutku. ”Hen, mungkin semua ini salah Ibu dan Bapak yang
terlalu memanjakan kamu. Sehingga kamu menjadi terganggu
dengan sikap suamimu. Cobalah, Hen pikirkan baik-baik. Apa
kekurangan Ridwan? Ia suami yang baik. Setia, jujur dan
pekerja keras. Ridwan itu tidak pernah kasar sama kamu, rajin
ibadah. Ia juga baik dan hormat kepada Ibu dan Bapak. Tidak
semua suami seperti dia, Hen. Banyak orang yang dizholimi
suaminya. Na’udzubillah!” Kata Ibu.
Aku terdiam. Yah, betul sih apa yang dikatakan Ibu. ”Tapi Bu,
dia itu keterlaluan sekali. Masak Ulang tahun perkawinan
sendiri tiga kali lupa. Lagi pula, dia itu sama sekali tidak punya
waktu buat aku. Aku kan istrinya, bu. Bukan cuma bagian dari
perabot rumah tangga yang hanya perlu ditengok sekali-sekali.”
Aku masih kesal. Walaupun dalam hati aku membenarkan apa
yang diucapkan Ibu.
Ya, selain sifat kurang romantisnya, sebenarnya apa
kekurangan Aa’? Hampir tidak ada. Sebenarnya, ia berusaha
sekuat tenaga untuk membahagiakanku dengan caranya
sendiri. Ia selalu mendorongku untuk menambah ilmu dan
memperluas wawasanku. Ia juga selalu menyemangatiku untuk
lebih rajin beribadah dan selalu berbaik sangka kepada orang
lain. Soal kesetiaan? Tidak diragukan. Diah satu kantor
dengannya. Dan ia selalu bercerita denganku bagaimana Aa’
bersikap terhadap rekan-rekan wanitanya di kantor. Aa’ tidak
pernah meladeni ajakan Anita yang tidak juga bosan
menggoda dan mengajaknya kencan. Padahal kalau mau,
dengan penampilannya yang selalu rapi dan cool seperti itu,
tidak sulit buatnya menarik perhatian lawan jenis.
”Hen, kalau kamu merasa uring-uringan seperti itu, sebenarnya
bukan Ridwan yang bermasalah. Persoalannya hanya satu,
kamu kehilangan rasa syukur…” Ibu berkata tenang.
Aku memandang Ibu. Perkataan Ibu benar-benar menohokku.
Ya, Ibu benar. Aku kehilangan rasa syukur. Bukankah baru dua
minggu yang lalu aku membujuk Ranti, salah seorang
sahabatku yang stres karena suaminya berselingkuh dengan
wanita lain dan sangat kasar kepadanya? Bukankah aku yang
mengajaknya ke dokter untuk mengobati memar yang ada di
beberapa bagian tubuhnya karena dipukuli suaminya?
Pelan-pelan, rasa bersalah timbul dalam hatiku. Kalau
memang aku ingin menghabiskan waktu dengannya hari ini,
mengapa aku tidak mengatakannya jauh-jauh hari agar ia
dapat mengatur jadualnya? Bukankah aku bisa
mengingatkannya dengan manis bahwa aku ingin pergi
dengannya berdua saja hari ini. Mengapa aku tidak mencoba
mengatakan kepadanya, bahwa aku ingin ia bersikap lebih
romantis? Bahwa aku merasa tersisih karena kesibukannya?
Bahwa aku sebenarnya takut tidak lagi dicintai?
Aku segera pamit kepada Ibu. Aku bergegas pulang untuk
membereskan rumah dan menyiapkan makan malam yang
romantis di rumah. Aku tidak memberitahunya. Aku ingin
membuat kejutan untuknya.
Makan malam sudah siap. Aku menyiapkan masakan
kegemaran Aa’ lengkap dengan rangkaian mawar merah di
meja makan. Jam tujuh malam, Aa’ belum pulang. Aku
menunggu dengan sabar. Jam sembilan malam, aku hanya
menerima smsnya. Maaf aku terlambat pulang. Tugasku belum
selesai. Makanan di meja sudah dingin. Mataku sudah berat,
tetapi aku tetap menunggunya di ruang tamu.
Aku terbangun dengan kaget. Ya Allah, aku tertidur. Kulirik jam
dinding, jam 11 malam. Aku bangkit. Seikat mawar merah
tergeletak di meja. Di sebelahnya, tergeletak kartu ucapan dan
kotak perhiasan mungil. Aa’ tertidur pulas di karpet. Ia belum
membuka dasi dan kaos kakinya.
Kuambil kartu ucapan itu dan kubuka. Sebait puisi membuatku
tersenyum.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Lewat kata yang tak sempat disampaikan
Awan kepada air yang menjadikannya tiada
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikannya abu. *
For vieny, welcome to your husband’s heart.
*dikutip dari Aku ingin mencintaimu dengan sederhana karya
Sapardi Djoko Damono.
Silahkan Share dengan mengklik : http://on.fb.me/xQU3TC
Selasa pukul 12:21
Kaze Kate
postingan : http://lets-lea
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar